Selasa, 05 Maret 2013

Cinta, Aku dan Pedih

Laki-laki datang atas nama cinta. Dia bagaikan pupuk yang bertugas menyirami bunga layu. Bunga yang tengah dirandang hama jahat. Seseorang bernama aku sedang mengkatup hatinya serapat mungkin. Sangat kaku, tidak bisa dibuka. Mentari pun tak sanggup melumerkan hatinya. Iya, dia yang ditinggal oleh laki-laki bernama pedih. Laki-laki yang sangat aku perjuangkan. Lalu, cinta datang memberikan pupuk kepada bunga yang layu. Cinta memberikan aku sebuah kenyamanan, melupakan sejenak tentang pedih.

Cinta begitu berbeda, dia menyuruh aku untuk membuka hati. Hati yang terlanjur dikatup karena pedih. Perlahan-lahan aku mulai mengenal cinta, perlahan-lahan cinta menyelusup ke ambang pintu hatinya. Cinta mengubah aku menjadi seseorang yang lebih mudah tersenyum dalam hari-harinya.  Cinta yang membuat presepsi bahwa aku bisa melupakan pedih. Dia selalu menyuruh aku untuk membuka hati. Cinta sudah membawa kunci, dan bersiap masuk ke dalam ruang hati aku.  Ya, perlahan-lahan si aku membuka hatinya untuk cinta, meskipun belum selebar daun kelor.

Tapi, tiba-tiba cinta menggoreskan sebuah luka. Oh, bukan. Bukan menggoreskan tapi, dia berubah. Cinta berubah menjadi sesosok yang jauh dari lamunan. Dia tak pernah lagi menyuruh aku untuk membuka hati, dia tak pernah membuat aku tersenyum lagi. Dia menghilang. Menjauh dari aku. Kemudian, aku berpikir cinta mungkin sudah menemukan tambatan hatinya yang lebih tepat dari aku.

Mengapa harus seperti ini? ketika aku berniat untuk membuka hati, goresan itu kembali melukai. Melukai anatomi tubuh aku yang paling rentan; hati. Aku pun enggan membuka hati, daun pintu yang sudah terbuka kembali ditutup oleh aku. Aku menagis sambil membekap mulutnya. Hatinya merasakan perih, seperti di hujam oleh belati tajam. Bagaimana tidak? Cinta tak lebih dari pedih, mereka sama. Sama-sama menyakitkan. Si aku tidak akan membuka hatinya lagi sampai lukanya benar-benar tak berbekas, sampai dia benar-benar pulih untuk merasakan kembali kasih yang tulus dari seseorang yang tepat baginya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar